Pembiayaan perbankan - di tengah riuh rendah ketidakpastian global dan tekanan geopolitik yang tak kunjung reda- menunjukkan kinerja yang positif. Sebabnya, dalam Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Vol.45 yang dirilis Bank Indonesia belum lama ini, tapi karena kinerja korporasi masih positif. Per triwulan I-2025, pertumbuhan penjualan korporasi mencapai 4,74% yoy. Bandingkan dengan akhir 2024 yang hanya tumbuh 2,15% yoy.
Secara sektoral, pendorongnya: sektor pertambangan, industri, dan pertanian. Pertumbuhan Sektor pertambangan didorong peningkatan harga emas yang turut mendorong penjualan. Pertumbuhan sector pertanian di dorong peningkatan permintaan musiman sejalan dengan tibanya masa panen dan periode hari besar keagamaan nasional Idul Fitri.
Mantabnya kinerja korporasi juga ditunjukkan profitabilitas Korporasi di mana per triwulan I 2025, ROE korporasi mencapai 9,36%. Selain itu, belanja modal (Capital Expenditure/capex) tumbuh sebesar 7,13% (yoy), terutama didukung oleh sektor Pertambangan dan Industri Pengolahan.
Namun, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa korporasi sedang ekspansif. Justru sebaliknya. Mereka sedang berhitung. Secara umum, Korporasi secara umum masih mengandalkan dana internal untuk mendukung kegiatan operasional dan investasi.Korporasi besar cenderung menahan ekspansi usaha dan melakukan pelunasan pinjaman luar negeri. KSK BI No. 45 melaporkan, di triwulan I--2025, untuk memperoleh pendanaan, Korporasi meningkatkan penerbitan obligasi yang tumbuh sebesar 7,76% yoy. Hal ini mengindikasikan kehati-hatian Korporasi dalam menjaga struktur pendanaan yang seimbang dengan memperhitungkan risiko kredit dan pasar. Kehati-hatian korporasi juga ditunjukkan pertumbuhan kas Korporasi, sebesar 15,43% (yoy) pada triwulan I 2025, menunjukkan bahwa Korporasi berada dalam posisi likuiditas yang relatif kuat. Mendikung fleksibilitas dalam merespons dinamika ekonomi maupun mendukung ekspansi pembiayaan.
Kredit modal kerja (KMK) dan investasi (KI) tetap tumbuh, meski melambat. KMK naik 13,36% yoy, dan KI naik 6,51% yoy. Penyumbang utama,secara sekyoral: Sektor industri pengolahan (2,13%) dan transportasi (1,18%). Tapi di balik angka-angka itu, ada cerita tentang kehati-hatian di tengah kondisi ketidakpastian global. Korporasi sedang menjaga kesinambungan, bukan mengejar pertumbuhan ekspansif.
Proyeksi BI: akan terjadi perlambatan KI dan KMK. Hanya tumbuh 6,86%. Sebabnya, tingkat keyakinan Korporasi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospek ke depan, menurun!!. Indikasinya: Indeks keyakinan bisnis, turun. Tekanan rantai pasok global global supply chain pressure index, naik. Kombinasi ini membuat korporasi menahan diri.
Ke depan, jalan tak sepenuhnya mulus. Ketidakpastian global masih tinggi. Konflik geopolitik belum reda. Dan yang paling mengkhawatirkan: daya beli rumah tangga, terutama kelas menengah ke bawah, mulai melemah. Ini bisa menjadi batu sandungan bagi permintaan domestik—yang selama ini jadi penopang utama ekonomi kita. Untungnya, korporasi Indonesia mempunyai fondasi yang masih kuat, menahan diri dan menunggu saat yang tepat untuk lebih agresif.
Saturday, September 6, 2025
Kinerja Pembiayaan Korporasi, awal 2025
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment