Segmen Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM), di dalam kondisi ekonomi global yang lagi bergejolak, masih dibilang: ekspansif. Indikasinya, indeks kinerja UMKM per triwulan II 2025 sendiri masih di atas 100. Tercatat di angka 121,7. Sayangnya, angka ini sebenarnya turun secara tahunan (Triwulan II 2024: 139,6). Yang pasti ada sektor yang melemah, misalnya: sektor industri pengolahan. Pelemahan ini mencerminkan turunnya daya beli masyarakat yang berujung turunnya permintaan produk UMKM. Untungnya, ada sektor yang tumbuh, yakni sektor jasa. Pendorongnya: Geliat pariwisata saat libur HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional).
Kredit UMKM sebenarnya, masih tumbuh, meskipun melambat. Pada Triwulan II 2025, kredit UMKM perbankan tumbuh 2,18% yoy. Melambat dari 5,68% yoy di Triwulan II 2024. Jika di breakdown per segmen, Kajian Stabilitas Keuangan Bank Indonesia (KSK BI) No. 45 mengungkapkan hal menarik: segmen mikro dan menengah melemah namun segmen UMKM kecil justru naik 10,28% yoy. Mengapa demikian? Jawabannya: NPL (Non-Performing Loan) UMKM naik ke 4,41%, didominasi oleh segmen mikro. Akibatnya, Bank pun ekstra prudent ke sektr mikro. Syarat makin ketat, periode pembiayaan lebih singkat dan yang sekedar Top-up kredit pun dibatasi.
Segmen Kecil: Lebih Menarik
UMKM segmen kecil menjadi primadona baru. Segmen tersebut lebih adaptif, punya omzet yang masih sehat dan Rasio pinjaman terhadap modal usaha di bawah 50%. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi bank. Apalagi mereka juga punya strategi diversifikasi produk dan penurunan harga yang membuat segmen kecil tetap kompetitif.
Survei Bank Indonesia menunjukkan bahwa permintaan kredit UMKM didominasi oleh nominal di bawah Rp50–100 juta. Bank-bank pun mulai menoleh ke segmen UMKM kecil, yang dianggap lebih aman.
Lain lagi cerita UMKM segmen menengah. Segmen ini lebih memilih menggunakan dana internal daripada kredit bank. Alasannya, simple saja: Tak mau dibebani bunga di tengah ketidakpastian. Artinya, UMKM menengah mulai belajar mengelola risiko secara mandiri. Meskipun, ada konsekuensi: Pertumbuhan yang lebih lambat.
Sektor Pendorong
Secara sektoral, pertumbuhan kredit UMKM terutama disumbang pertumbuhan kredit di: sektor Transportasi (10,81% yoy), Pertanian (7,01% yoy), dan Akomodasi (5,1% yoy). Pertumbuhan sektor Transportasi, didorong oleh pertumbuhan subsektor angkutan laut, seiring meningkatnya ekspor UMKM. Sektor Pertanian, tumbuh didorong kredit untuk komoditas seperti padi, kedelai, dan tembakau. Sektor Akomodasi—hotel vila, restoran— dorong kenaikan wisatawan, yang mencapai 1,42 juta kunjungan. Tertinggi pasca pandemi.
Ada sektor yang tumbuh, ada juga yang melambat. Sektor Konstruksi, misalnya, turun -4,32%, sektor Industri Pengolahan turun -1,63%, dan sektor Perdagangan turun 0,33%. Penurunan ini disebabkan terutama oleh realokasi proyek pemerintah, tarif resiprokal AS, dan melemahnya daya beli terhadap barang non pokok.
Kehati-hatian Bank
Perbankan masih berminat untuk menyalurkan kredit UMKM namun dengan langkah yang lebih prudent. Indikasinya: Indeks Lending Standard (ILS) di Triwulan II 2025 turun ke 0,4%, dari 1,2% di Triwulan II 2024. Apa artinya? syarat kredit mulai dilonggarkan, namun tetap dalam batas kewaspadaan.
Kita tahu, Bank pun tahu, UMKM, sejatinya, sektor produktif penyokong ekonomi Indonesia. Sektor yang menjadi sandaran hidup jutaan penduduk Indonesia. Tapi kita perlu hati-hati, jangan sampai runtuh jika mempunyai beban yang terlalu berat. Semoga ke depannya UMKM semakin sehat untuk turut berkontribusi menguatkan perbankan Indonesia. Amiin.